Jika engkau memintaku menulis hal-hal yang tidak kusuka darimu; tidak ada.
Jika engkau memintaku menyebut harapan-harapanku tentang bagaimana kau harus bersikap; tidak ada.
Jika engkau memintaku menyebut hal-hal yang kuinginkan tapi belum kau lakukan; tidak ada.
Jika pun ada, aku yakin kau telah melakukannya tanpa sepengetahuanku.
Sederhana cuma, aku memintamu untuk tidak pernah lupa bahwa seburuk apapun aku memperlakukanmu, aku tidak pernah bermaksud buruk padamu.
Jangan pernah lupa.
Jangan pernah ragu.
Jangan pernah bertanya.
Jika suatu hari aku kesal, yang sampai kepadamu mungkin pesan kekesalanku saja. Demi Tuhan, coba kau renungi lebih jauh. Kekesalanku membawa pesan berlapis-lapis.
Lapisan pertama saja yang terlihat buruk, yaitu kekesalan itu sendiri. Tapi lapisan-lapisan berikutnya adalah kekuatiran, permintaan, dan cinta kasih.
Sederhananya, kuberikan contoh untukmu. Jika suatu hari aku kesal tentang ketidaktegasan yang kau lakukan. Pesan yang sampai mungkin tidak utuh, aku memarahimu.
Inilah pesan utuhnya,
Lapisan pertama, kekesalanku: Jadi anak muda yang tegas dong, bukan hanya mengeluhkan keadaanmu. Bahkan jika masalah itu terasa menyesakkan dadamu sekalipun!
Lapisan keduanya, kekuatiranku: aku takut mereka melihat kelemahanmu, aku kuatir azab Tuhan kepadamu, aku sedih kau tidak bersikap seperti pemuda yang baik. Aku takut mereka tidak memandangmu terhormat seperti pemuda lainnya.
Lapisan ketiga, permintaanku: aku memohon agar engkau memiliki kesadaran bahwa ketegasan bukan hanya perkara secarik sikap, inilah identitas kita, inilah bentuk ketaatan kita di samping ketaatan yang lain. Aku memohon ini pertama-tama untuk kebaikanmu juga, bukan untuk kebaikanku, bukan orang lain.
Lapisan keempat, adalah kepedulian dan cinta kasihku: Aku peduli kepadamu. Apa lagi yang bisa kulakukan untuk selalu menyampaikan pesan cinta kasihku selain kepedulian.
Begitulah kekesalan dan kekuatiran-kekuatiran yang lain. Ingatlah satu-satu, tentang jalan hidup, sikap, persahabatan, hubungan dengan keluarga, dan seterusnya. Walaupun yang kau dengar hanya lapisan pertama, aku percaya kau mampu menulis/berkata kepada dirimu sendiri lapisan-lapisan berikutnya.
Itu saja. Lainnya tidak ada.
Itu saja. Jawaban panjangku setelah kata "tidak" ketika kau bertanya apakah aku bosan mendengar ceritamu.
Fa
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment