Kemarin dulu saya pernah bilang kalau diciptakan sebagai manusia merupakan anugerah terbesar dari Yang Maha Memberi. Sebagai manusia, kita memiliki berbagai faset emosi yang luar biasa unik. Manusia mampu mengalami sedih sekaligus geli, kecewa sekaligus tertawa, dua konklusi yang seolah saling meniadakan karena seringkali teralami bersama.
Dan entah kenapa pula semua itu sekarang mesti terjadi ketika saya sedang belajar mengenal diri sendiri. Rentang di mana seseorang mulai curiga bahwa keyakinan akan apa yang diri ingini tidaklah tertancap berakar dalam. Lebih kocak lagi, mungkin ini pula rentang di mana seseorang tercelikkan dan jadi vokal akan semua yang salah di dunia. Di sini pula seseorang jadi sadar bahwa jadi vokal tanpa tercebur dan basah kuyup adalah sesuatu yang lucu lagi ironis dalam dirinya sendiri.
Dan satu lagi rumor lain yang lebih menggelitik: rumor bahwa jadi salah satu sekrup, atau sekring, atau otak dari mesin besar bernama dunia bukanlah pilihan buruk. Bukan hanya karena implikasi ekonomis atau sosial dari pilihan semacam. Pilihan macam ini memiliki alasan yang lebih hakiki: bahwa tak ada yang salah dari dunia, at the first place. Dan kalaupun ada yang terasa salah dari dunia, akar dan solusi dari 'rasa salah' ini bukanlah sesuatu yang material, namun spiritual. Atau kalaupun ada yang salah dari dunia, solusi yang realistis bukanlah sesuatu nan global, namun aksi bite size. Kecil dan sederhana.
Ah ya, satu lagi. Saya jadi teringat lagi kutipan dari Socrates: Unreflected life is not worth living. Dan justru di usia sekian pula saya mulai curiga: Over-reflected life is not worth living.
Well, apa yang mengalir diatas sebenarnya dipicu fenomena dalam diri yang terjadi akhir minggu lalu. Siang bolong, terbenam dalam pekerjaan yang menumpuk di kampus, sambil srupat sruput kopi instant bikinan sendiri, ketika tiba-tiba benak ini ngelayap bikin analogi ngawur antara kopi encer dan hidup saya. Wangsit memang selalu saja begitu, datang tiba-tiba mengetuk pintu benak yang super chaotic dan multitasking ini, dan toh meski begitu - saking seringnya terjadi sehingga nggak ada yang perlu dikuatirkan pada komponen otak saya yang sepertinya memang baik-baik saja.
Entah kenapa tapi pikir-pikir belakangan saya kok ngerasa hidup saya makin mirip kopi encer ya. Terlalu datar, nggak nendang, nggak intens.
Bangun dini hari, menguap kanan kiri, hidupin pemanas air buat bikin kopi panas, ke kamar mandi, wudhu dan lain sebagainya, bersimpuh menyapa Yang Empunya Hidup, baca-baca nunggu subuh, olahraga bentar, beberes rumah, sarapan sambil mencoba membuat catatan mental apa aja yang mesti dikerjakan hari ini, trus off to work.
Di kampus, mulai pasang musik yang mau diputar seharian sambil memain-mainkan berbagai item di catatan mental yang dibuat pagi tadi, mencocok-cocokkan waktu dan mengira-ngira berapa lama masing-masing item pekerjaan bakal memakan tempo, juggling beberapa hal dalam satu momen, pergi makan siang, tulis report ini itu, baca artikel ini itu buat nulis report yang lain, main-main di jurusan bentar, ke perpus, terkadang ngobrol dengan mahasiswa, pulang, leyeh-leyeh, cerita dengan keluarga, makan malam, berlanjut mengobrol, terkadang nonton film dari DVD, terkadang menelepon menyapa seseorang, baca-baca menunggu kantuk menjemput untuk kemudian bangun njenggirat ketika alarm berteriak mewartakan hari baru di depan pintu.
Siklus datar yang mulai terasa menjemukan. Siklus aktivitas yang – sejujurnya – akhir-akhir ini mulai saya pertanyakan arah dan pengaruhnya ke gambar besar kehidupan saya.
Hidup yang encer saja. Tak lebih dari rutinitas di rel yang sudah dipancang dari mula. Tak ada excitement yang baru di setiap tikungan hari. Excitement yang menari-nari di lidah di setiap hirupan nafas hidup. Excitement, sensasi yang absen di hirup demi hirup nafas hidup yang datar-datar aja.
Yang membuat saya terkejut, ternyata kemarin-kemarin saya kok merasa baik-baik aja ya dengan itu semua. Tetap melenggang dan menikmati segala sesuatu dalam hidup. Kind of a joke, really. How can you expect to rehearse all things you ever taken in your life?
Dan di tengah aktivitas ala Sisifus ini terbersit satu pertanyaan di benak saya. All this hard knowledge and then what? Dalam bayangan saya, seperti halnya mendaki Everest, pertanyaan bodoh macam ini bisa diikuti sampai dua kemungkinan konklusi berbeda: kemungkinan begitu luas bisa bikin hati kelu, kaki lemas, hilang selera; namun bisa pula bikin diri bergegas dan tangan gatal tak sabar. Sungguh, jarang ada sesuatu yang lebih membakar semangat dari pada kesempatan tanpa batas, seperti halnya jarang ada hal lebih menakutkan dari pada kesempatan tanpa batas. Uniknya, saya temukan keduanya tak saling eksklusif.
Dalam hidup, setiap insan mungkin punya kerinduan untuk jadi abadi. Menelusuri lorong waktu, meninggalkan jejak. Untuk diingat. Untuk tetap hidup meski tak lagi menapak bumi. Ini dilogikakan karena sebagai manusia yang terbatas adakalanya tergoda untuk jadi nggak tahu diri dan kepengen jadi nggak terbatas.
Saya sendiri lebih sreg dengan pendekatan yang lain: kita punya kerinduan untuk jadi abadi karena emang 'dari sono'nya punya keinginan untuk jadi abadi. Tapi segala yang kita lihat di dunia kasad mata ini bicara lain: perang, bencana kelaparan, penyakit, semua seolah membisikkan pesan ke jiwa manusia tentang kesementaraan, kerentanan hidup. Dan kita pun harus ikhlas untuk jadi 'insyaf', untuk mengkonformasi diri ke 'kenyataan' yang tiap hari melingkupi hidup. Bahwa hidup emang cuma 'mampir ngombe'. Hati, roh, yang dicipta untuk jadi abadi, terkungkung oleh lingkungan informasi yang seragam berteriak tentang kesementaraan. Maka kita pun beraspirasi untuk jadi abadi dengan cara apapun. Menulis, berderma, berusaha melakukan sebanyak-banyak kebaikan. Mengingat bahwa ada kehidupan lain setelah ini, bahwa kita hidup, kita ada, semua tidak lain karena anugerah dariNya semata. Dan saya yakin, Yang Maha Memberi yang telah mengatur segala sesuatunya ini, menyiapkan kapan waktu yang terbaik untuk kita menjalani skenario dalam hidup ini. Dan riak – riak dalam hidup bukanlah sesuatu yang tidak bisa kita lalui dengan tegak.
Setidak-tidaknya dari semua itu ada hikmah besar yang bisa dipetik. Bahwa aktivitas yang kita jalani selama ini nggak selamanya berada dalam jalan yang lempeng dan mulus, justru dengan tikungan yang menunggu di depan membuat segala sesuatunya lebih hidup. Dan dengan semua kejadian yang ada - membuat kita kembali untuk berpikir ulang; dan menjalani aktivitas - bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, atau kepentingan sebuah lembaga; atau sekedar mengisi waktu dan menebalkan kantong sendiri.
Berhenti melakukan rutinitas autistik.
Dan tidak lagi menjadi insan yang melakukan aktivitas rutinitas tanpa tujuan hakiki yang bisa dipertanggungjawabkan secara moralitas pada masyarakat; dan juga Tuhan tentunya.
Mungkin nggak semua insan sepenuhnya setuju dengan pilihan ini. Dan sah-sah saja menurut saya, toh ini ranahnya masuk territorial asasi perseorangan. Tapi saya pikir, hal-hal yang sebagian kita lihat sebagai 'vain attempts', hal-hal yang ditertawakan oleh mereka yang mengklaim posisi moral: meninggalkan jejak dengan cara apapun juga, buat saya adalah bukti dan sumber pengharapan bahwa manusia tidak dicipta sekedar untuk 'mampir ngombe'. Tapi juga beraktivitas, berkarya, bermanfaat bagi sesama. Berpijak di bumi, menelusuri lorong waktu dengan segenap pemikiran positif. Bahwa apa yang diberikan olehNya ini sangatlah luar biasa.
Jadi cameo sudah selesai. Bisa jadi selama ini saya terlena karena segala yang ada di sekitar diri seolah menyatakan bahwa tempat saya memang cuma di sini, makanya diri ini pun jadi permisif. Inggah inggih saja dengan semua yang terjadi. Bahkan mungkin tanpa sadar saya belajar untuk down-sizing impian sendiri.
Tapi ada sesuatu di selisip sel-sel kelabu ini yang terus mengingatkan diri bahwa ada yang geseh antara impian yang dulu dengan kenyataan sekarang. Sesuatu yang mengemuka jadi rasa jemu akan rutinitas sesehari.
Mungkin di situ letak solusinya: saya perlu belajar bermimpi lagi. Dan bersama dengan itu, menebus hidup yang mulai terasa encer ini. Menolak menjalani hidup nan mudah diprediksi tanpa keliaran mimpi. Belajar untuk berani bermimpi bermuluk-muluk lagi. Belajar untuk bisa bermanfaat ke komunitas yang lebih luas lagi. Belajar untuk berani bermimpi bermuluk-muluk lagi. Mengentalkan hidup kembali. --------------------------------------------------------------------------------------------Tulisan ini sebenarnya ditulis karena teringat tulisan refleksi beberapa tahun yang lalu :D



0 comments:
Post a Comment