Friday, January 27, 2012

Dialog Film Dini Hari

Tak seorang pun ingin dilupakan, apalagi secara tiba-tiba..., seperti aku yang berjuang terus menanam jejak di batinmu...

Tapi, tanpamu ternyata aku tidak apa-apa juga :) *dialog film dini hari*

Tuesday, December 27, 2011

Refleksi akhir tahun

Kemarin dulu saya pernah bilang kalau diciptakan sebagai manusia merupakan anugerah terbesar dari Yang Maha Memberi. Sebagai manusia, kita memiliki berbagai faset emosi yang luar biasa unik. Manusia mampu mengalami sedih sekaligus geli, kecewa sekaligus tertawa, dua konklusi yang seolah saling meniadakan karena seringkali teralami bersama.

Dan entah kenapa pula semua itu sekarang mesti terjadi ketika saya sedang belajar mengenal diri sendiri. Rentang di mana seseorang mulai curiga bahwa keyakinan akan apa yang diri ingini tidaklah tertancap berakar dalam. Lebih kocak lagi, mungkin ini pula rentang di mana seseorang tercelikkan dan jadi vokal akan semua yang salah di dunia. Di sini pula seseorang jadi sadar bahwa jadi vokal tanpa tercebur dan basah kuyup adalah sesuatu yang lucu lagi ironis dalam dirinya sendiri.

Dan satu lagi rumor lain yang lebih menggelitik: rumor bahwa jadi salah satu sekrup, atau sekring, atau otak dari mesin besar bernama dunia bukanlah pilihan buruk. Bukan hanya karena implikasi ekonomis atau sosial dari pilihan semacam. Pilihan macam ini memiliki alasan yang lebih hakiki: bahwa tak ada yang salah dari dunia, at the first place. Dan kalaupun ada yang terasa salah dari dunia, akar dan solusi dari 'rasa salah' ini bukanlah sesuatu yang material, namun spiritual. Atau kalaupun ada yang salah dari dunia, solusi yang realistis bukanlah sesuatu nan global, namun aksi bite size. Kecil dan sederhana.

Ah ya, satu lagi. Saya jadi teringat lagi kutipan dari Socrates: Unreflected life is not worth living. Dan justru di usia sekian pula saya mulai curiga: Over-reflected life is not worth living.

Well, apa yang mengalir diatas sebenarnya dipicu fenomena dalam diri yang terjadi akhir minggu lalu. Siang bolong, terbenam dalam pekerjaan yang menumpuk di kampus, sambil srupat sruput kopi instant bikinan sendiri, ketika tiba-tiba benak ini ngelayap bikin analogi ngawur antara kopi encer dan hidup saya. Wangsit memang selalu saja begitu, datang tiba-tiba mengetuk pintu benak yang super chaotic dan multitasking ini, dan toh meski begitu - saking seringnya terjadi sehingga nggak ada yang perlu dikuatirkan pada komponen otak saya yang sepertinya memang baik-baik saja.

Entah kenapa tapi pikir-pikir belakangan saya kok ngerasa hidup saya makin mirip kopi encer ya. Terlalu datar, nggak nendang, nggak intens.

Bangun dini hari, menguap kanan kiri, hidupin pemanas air buat bikin kopi panas, ke kamar mandi, wudhu dan lain sebagainya, bersimpuh menyapa Yang Empunya Hidup, baca-baca nunggu subuh, olahraga bentar, beberes rumah, sarapan sambil mencoba membuat catatan mental apa aja yang mesti dikerjakan hari ini, trus off to work.

Di kampus, mulai pasang musik yang mau diputar seharian sambil memain-mainkan berbagai item di catatan mental yang dibuat pagi tadi, mencocok-cocokkan waktu dan mengira-ngira berapa lama masing-masing item pekerjaan bakal memakan tempo, juggling beberapa hal dalam satu momen, pergi makan siang, tulis report ini itu, baca artikel ini itu buat nulis report yang lain, main-main di jurusan bentar, ke perpus, terkadang ngobrol dengan mahasiswa, pulang, leyeh-leyeh, cerita dengan keluarga, makan malam, berlanjut mengobrol, terkadang nonton film dari DVD, terkadang menelepon menyapa seseorang, baca-baca menunggu kantuk menjemput untuk kemudian bangun njenggirat ketika alarm berteriak mewartakan hari baru di depan pintu.

Siklus datar yang mulai terasa menjemukan. Siklus aktivitas yang – sejujurnya – akhir-akhir ini mulai saya pertanyakan arah dan pengaruhnya ke gambar besar kehidupan saya.

Hidup yang encer saja. Tak lebih dari rutinitas di rel yang sudah dipancang dari mula. Tak ada excitement yang baru di setiap tikungan hari. Excitement yang menari-nari di lidah di setiap hirupan nafas hidup. Excitement, sensasi yang absen di hirup demi hirup nafas hidup yang datar-datar aja.

Yang membuat saya terkejut, ternyata kemarin-kemarin saya kok merasa baik-baik aja ya dengan itu semua. Tetap melenggang dan menikmati segala sesuatu dalam hidup. Kind of a joke, really. How can you expect to rehearse all things you ever taken in your life?

Dan di tengah aktivitas ala Sisifus ini terbersit satu pertanyaan di benak saya. All this hard knowledge and then what? Dalam bayangan saya, seperti halnya mendaki Everest, pertanyaan bodoh macam ini bisa diikuti sampai dua kemungkinan konklusi berbeda: kemungkinan begitu luas bisa bikin hati kelu, kaki lemas, hilang selera; namun bisa pula bikin diri bergegas dan tangan gatal tak sabar. Sungguh, jarang ada sesuatu yang lebih membakar semangat dari pada kesempatan tanpa batas, seperti halnya jarang ada hal lebih menakutkan dari pada kesempatan tanpa batas. Uniknya, saya temukan keduanya tak saling eksklusif.

Dalam hidup, setiap insan mungkin punya kerinduan untuk jadi abadi. Menelusuri lorong waktu, meninggalkan jejak. Untuk diingat. Untuk tetap hidup meski tak lagi menapak bumi. Ini dilogikakan karena sebagai manusia yang terbatas adakalanya tergoda untuk jadi nggak tahu diri dan kepengen jadi nggak terbatas.

Saya sendiri lebih sreg dengan pendekatan yang lain: kita punya kerinduan untuk jadi abadi karena emang 'dari sono'nya punya keinginan untuk jadi abadi. Tapi segala yang kita lihat di dunia kasad mata ini bicara lain: perang, bencana kelaparan, penyakit, semua seolah membisikkan pesan ke jiwa manusia tentang kesementaraan, kerentanan hidup. Dan kita pun harus ikhlas untuk jadi 'insyaf', untuk mengkonformasi diri ke 'kenyataan' yang tiap hari melingkupi hidup. Bahwa hidup emang cuma 'mampir ngombe'. Hati, roh, yang dicipta untuk jadi abadi, terkungkung oleh lingkungan informasi yang seragam berteriak tentang kesementaraan. Maka kita pun beraspirasi untuk jadi abadi dengan cara apapun. Menulis, berderma, berusaha melakukan sebanyak-banyak kebaikan. Mengingat bahwa ada kehidupan lain setelah ini, bahwa kita hidup, kita ada, semua tidak lain karena anugerah dariNya semata. Dan saya yakin, Yang Maha Memberi yang telah mengatur segala sesuatunya ini, menyiapkan kapan waktu yang terbaik untuk kita menjalani skenario dalam hidup ini. Dan riak – riak dalam hidup bukanlah sesuatu yang tidak bisa kita lalui dengan tegak.

Setidak-tidaknya dari semua itu ada hikmah besar yang bisa dipetik. Bahwa aktivitas yang kita jalani selama ini nggak selamanya berada dalam jalan yang lempeng dan mulus, justru dengan tikungan yang menunggu di depan membuat segala sesuatunya lebih hidup. Dan dengan semua kejadian yang ada - membuat kita kembali untuk berpikir ulang; dan menjalani aktivitas - bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, atau kepentingan sebuah lembaga; atau sekedar mengisi waktu dan menebalkan kantong sendiri.

Berhenti melakukan rutinitas autistik.

Dan tidak lagi menjadi insan yang melakukan aktivitas rutinitas tanpa tujuan hakiki yang bisa dipertanggungjawabkan secara moralitas pada masyarakat; dan juga Tuhan tentunya.

Mungkin nggak semua insan sepenuhnya setuju dengan pilihan ini. Dan sah-sah saja menurut saya, toh ini ranahnya masuk territorial asasi perseorangan. Tapi saya pikir, hal-hal yang sebagian kita lihat sebagai 'vain attempts', hal-hal yang ditertawakan oleh mereka yang mengklaim posisi moral: meninggalkan jejak dengan cara apapun juga, buat saya adalah bukti dan sumber pengharapan bahwa manusia tidak dicipta sekedar untuk 'mampir ngombe'. Tapi juga beraktivitas, berkarya, bermanfaat bagi sesama. Berpijak di bumi, menelusuri lorong waktu dengan segenap pemikiran positif. Bahwa apa yang diberikan olehNya ini sangatlah luar biasa.

Jadi cameo sudah selesai. Bisa jadi selama ini saya terlena karena segala yang ada di sekitar diri seolah menyatakan bahwa tempat saya memang cuma di sini, makanya diri ini pun jadi permisif. Inggah inggih saja dengan semua yang terjadi. Bahkan mungkin tanpa sadar saya belajar untuk down-sizing impian sendiri.

Tapi ada sesuatu di selisip sel-sel kelabu ini yang terus mengingatkan diri bahwa ada yang geseh antara impian yang dulu dengan kenyataan sekarang. Sesuatu yang mengemuka jadi rasa jemu akan rutinitas sesehari.

Mungkin di situ letak solusinya: saya perlu belajar bermimpi lagi. Dan bersama dengan itu, menebus hidup yang mulai terasa encer ini. Menolak menjalani hidup nan mudah diprediksi tanpa keliaran mimpi. Belajar untuk berani bermimpi bermuluk-muluk lagi. Belajar untuk bisa bermanfaat ke komunitas yang lebih luas lagi. Belajar untuk berani bermimpi bermuluk-muluk lagi. Mengentalkan hidup kembali. --------------------------------------------------------------------------------------------

Tulisan ini sebenarnya ditulis karena teringat tulisan refleksi beberapa tahun yang lalu :D

Sunday, December 25, 2011

Allah, Tuhanku...

Sungguh hanya karena keyakinanku atasMu, maka kuyakini...

Bila hati ini kupenuhi cinta padaMu, Kau akan menempatkan orang/sesuatu yang kuinginkan di hati secara tepat yang tak menodai tauhid.

Tapi bila aku menempatkannya dihati sehingga memenuhi hatiku dan menyisihkanMu, itu hanya berbuah gelisah dan sengsara bagiku.

"Barangsiapa yang bertaqwa niscaya Allah memberi jalan keluar, memberi rizki yang tak disangka-sangka dan barangsiapa bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya". (QS. Ath-Thalaq (65) ayat 2 dan 3).

Bukankah benar begitu Tuhanku?

Thursday, December 22, 2011

Anta Maa Taquulu

"Anta Maa Taquulu" apa yang keluar dari mulutmu. Nilai dan kwalitas-mu terlihat dari bahasa yang keluar dari mulutmu.

Kalau kau beriman dan berilmu, maka yang keluar adalah hikmah, sopan, mulia, bahasa tersusun, sejuk, menyadarkan. Kalau lemah iman dan ilmu maka yang keluar dusta, gosip, hujatan dan sebagainya.

Disebut Taqwa karena lisannya mulia (QS Al Ahzab 33: 70-71).

Karena "siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah berkata baik, benar, jujur, sopan kalau tidak diam." (Hadis)

Sunday, December 18, 2011

Perjalanan

Saya ini si tukang cerita, yang kerjanya duduk di pinggir keramaian dan mengamati. Si silent di tengah keramaian. Saya sama sekali bukan pemain dalam makna kontemporer – pun tidak berperan dalam pembentukan peristiwa atau karakter banyak orang. Hanya merekam apa yang saya lihat, dengan segala keterbatasan memori saya.

Dulu saya berpikir, saya-lah pihak yang aktif, bergerak, berpikir dan tak henti mencatat. Mengumpulkan cerita demi cerita yang kemudian akan saya tuliskan, disusun dan diurutkan untuk kemudian diceritakan kembali. Tapi ternyata saya salah. Kisah-kisah yang berkeliaran di dunia ini ternyata punya eksistensi sendiri. Tadinya mungkin mereka hanya potongan kisah hidup, anekdot-anekdot kecil yang muncul mewarnai perjalanan saya; tapi ternyata mereka menjadi nyata, hingga saya tidak bisa lagi mengontrol atau menentukan apa yang terjadi pada mereka.

Orang-orang dan pengalaman-pengalaman tertentu menjadi begitu kuatnya dan tidak terlupakan, sarat dengan cinta atau kepahitan yang tertanam begitu dalam di pikiran saya, dan tinggal di sana serta berkembang hingga mereka (atau saya) siap. Begitu banyak karakter dan tempat yang penuh cerita, hingga kadang-kadang saya bingung memutuskan siapa dan apa yang harus saya tulis. Kadang-kadang mereka seperti mengerubungi saya, berebut perhatian.

Jalanan adalah salah satu tempat favorit saya untuk memperhatikan orang. Saat berdiri di tengah polusi adalah kesempatan untuk melihat dan mendengarkan. Seolah-olah saya diberi kesempatan untuk mengintip kehidupan orang lain: begitu membuat penasaran, dan juga tidak pernah utuh, karena saya tahu - begitu orang-orang itu bergerak berlalu, saya tidak akan pernah bisa menyatukan kepingan-kepingan kisah mereka.

Jadi-lah, saya duduk di pinggir keramaian, mengamati, dan kadang-kadang terpaksa mengalihkan pandangan agar tidak terlalu lama bertubrukan dengan kepahitan hidup yang begitu menyiksa.

Mempunyai imajinasi tinggi memang ada untung ruginya: kadang kita jadi bisa melihat dan merasakan sesuatu secara dekat. Dan bila ini terjadi, kita dihadapkan pada kenyataan yang seringkali tak ingin diketahui – apalagi dipahami – orang-orang di sekitarnya.

Namun mungkin itu jugalah yang membuat saya tidak terlalu banyak memiliki teman yang benar-benar dekat. Tidak mudah memang membuka diri selebar-lebarnya pada seseorang diluar diri sendiri. Terlebih melakukan perjalanan seperti kemarin.

Well saya menyukai perjalanan kemarin. Memperhatikan caramu melihat.

Dengan mata. Dengan hati.


Tuesday, November 22, 2011

Tidak Ada

Jika engkau memintaku menulis hal-hal yang tidak kusuka darimu; tidak ada.

Jika engkau memintaku menyebut harapan-harapanku tentang bagaimana kau harus bersikap; tidak ada.

Jika engkau memintaku menyebut hal-hal yang kuinginkan tapi belum kau lakukan; tidak ada.

Jika pun ada, aku yakin kau telah melakukannya tanpa sepengetahuanku.

Sederhana cuma, aku memintamu untuk tidak pernah lupa bahwa seburuk apapun aku memperlakukanmu, aku tidak pernah bermaksud buruk padamu.

Jangan pernah lupa.
Jangan pernah ragu.
Jangan pernah bertanya.

Jika suatu hari aku kesal, yang sampai kepadamu mungkin pesan kekesalanku saja. Demi Tuhan, coba kau renungi lebih jauh. Kekesalanku membawa pesan berlapis-lapis.

Lapisan pertama saja yang terlihat buruk, yaitu kekesalan itu sendiri. Tapi lapisan-lapisan berikutnya adalah kekuatiran, permintaan, dan cinta kasih.

Sederhananya, kuberikan contoh untukmu. Jika suatu hari aku kesal tentang ketidaktegasan yang kau lakukan. Pesan yang sampai mungkin tidak utuh, aku memarahimu.

Inilah pesan utuhnya,

Lapisan pertama, kekesalanku: Jadi anak muda yang tegas dong, bukan hanya mengeluhkan keadaanmu. Bahkan jika masalah itu terasa menyesakkan dadamu sekalipun!

Lapisan keduanya, kekuatiranku: aku takut mereka melihat kelemahanmu, aku kuatir azab Tuhan kepadamu, aku sedih kau tidak bersikap seperti pemuda yang baik. Aku takut mereka tidak memandangmu terhormat seperti pemuda lainnya.

Lapisan ketiga, permintaanku: aku memohon agar engkau memiliki kesadaran bahwa ketegasan bukan hanya perkara secarik sikap, inilah identitas kita, inilah bentuk ketaatan kita di samping ketaatan yang lain. Aku memohon ini pertama-tama untuk kebaikanmu juga, bukan untuk kebaikanku, bukan orang lain.

Lapisan keempat, adalah kepedulian dan cinta kasihku: Aku peduli kepadamu. Apa lagi yang bisa kulakukan untuk selalu menyampaikan pesan cinta kasihku selain kepedulian.

Begitulah kekesalan dan kekuatiran-kekuatiran yang lain. Ingatlah satu-satu, tentang jalan hidup, sikap, persahabatan, hubungan dengan keluarga, dan seterusnya. Walaupun yang kau dengar hanya lapisan pertama, aku percaya kau mampu menulis/berkata kepada dirimu sendiri lapisan-lapisan berikutnya.

Itu saja. Lainnya tidak ada.

Itu saja. Jawaban panjangku setelah kata "tidak" ketika kau bertanya apakah aku bosan mendengar ceritamu.


Fa

Sunday, November 20, 2011

Tuhanku,

Kini aku tumbuh semakin dewasa,

Terkadang pagiku tak selamanya seindah puisi, dan malam meneror dengan ketakutan dan kegelisahan. Dan saat itu tiba, aku tau disinilah aku diuji untuk menjadi diriku sendiri.

Allah Tuhanku,

Aku ingin mulai belajar dalam kesabaran Ayub
mulai belajar berjalan bersama keberanian Ibrahim
mulai belajar memahami semesta dengan kecerdasan Sulaiman
mulai belajar menaklukkan angkuh dunia dengan ketangguhan Musa
mulai belajar menghimpun semua kebijaksanaan Yakub
mulai belajar mengatakan kebenaran semerdu suara Daud
dan memulai mengasihi sesama sepenuh cinta Isa
memasuki kebeningan diri bersama ketakwaan Muhammad

Allah Tuhanku,

sepenuh hati kumohonkan dengan sangat padaMu,

Kemanapun aku menghadapkan wajahku, kumohonkan aku senantiasa melihat wajahMu, karena aku tahu Kau satu-satunya yang selalu bersamaku, sebagaimana laut melindungi terumbu.

Allah Tuhanku,

terkadang pikirku tak sejernih akalku, dan disaat keresahan dan ketakutan mulai berani menyelinap dalam mimpi-mimpiku,

Kumohonkan sekali lagi padaMu,

agar Kau hadir disetiap mimpiku, menepuk pundakku dan membisikkan kalimatMu. Karena hanya keyakinan atasMu yang membuatku yakin : semua akan baik-baik saja.

Aamiin

Sunday, October 23, 2011

Pertama kali membaca definisi-mu tentang kampus dan mahasiswa sebagai "the edgy relationship between happiness and written words" aku langsung membayangkan suara dan gambar-gambar yang menggantung di pikiranku ketika kau bercerita.

Ku pikir, mengapa tidak suara dan gambar-gambar itu dihadirkan secara bersamaan dengan ceritanya?

Karena aku nggak pernah bisa sendirian. Thinker seperti-ku sangat membutuhkan supporter sebagai penyangga. Yang mengingatkan, sekaligus menjadi tempat bersandar. Ide yang baik, bagiku, harus sama bagusnya dengan bagaimana ia dieksekusi menjadi bentuk yang nyata.

Karenanya sepenuh hati kumohon, bangunlah, mari kita bangun bersama.. :)

Wednesday, October 19, 2011

Tentang Cinta: Seberapa Tinggi Kita Mampu Membayar?

Sahabat, kita bertemu dengan hati, maka kita hanya boleh dipisahkan jika salah seorang dari kita sudah tak memiliki hati. Maka bacalah ini dengan hati. Simpanlah dulu otak kirimu yang cenderung menghakimi.

Tulisan ini digoreskan dengan detak hati yang tulus. Setidaknya itulah yang aku upayakan lakukan untukmu. Hatiku bukan terbuat dari bahan-bahan terbaik yang terpelihara dari cacat dan kekurangan, tapi telah kubuka, untuk keluh kesahmu, untuk ceritamu, untuk semua kesedihan dan kepahitan setiap peristiwa yang telah membuatmu terluka.

Karena sengaja ataupun tidak, kau telah melakukan kebaikan yang sama padaku.

Dan dengan segala kesederhanaan itu, aku berkata kepadamu dengan yakin, karena kau pun yang telah menunjukkan bahwa penghormatan atau kekuatiran akan membekas di hati paling dalam. Terlebih lagi karena itu terucap dengan penyertaan sebuah senyuman yang tulus.

Sahabat yang baik, ini hanya tentang harga-harga yang harus kita bayar dalam hidup.

Jika kita memiliki banyak bekal, punya cukup waktu luang, dan percaya masih memiliki tenaga dan kesempatan yang cukup untuk bangkit kembali; sebenarnya tidak mengapa kita bermain-main dengan pengalaman yang mengorbankan kebahagiaan jangka panjang.

Tapi siapa yang berani menjamin itu?

Jika tidak ada jaminan, maka jangan buang-buang waktu. Kita tidak perlu membayar dengan harga yang sangat mahal untuk berbahagia.

Termasuk juga dalam memilih kekasih hidup, kadang dengan alasan bersimpati atau cinta, kita sanggup "berkorban", mengorbankan masa depan, hingga tahap "rela menjadi korban".

Namun tahukah kau,

Kalau cinta akan datang untuk jiwa-jiwa yang kuat, yang tahan banting, yang siap diuji kemurniannya. Jika kau mencintai, kau akan dicoba. Sebab cinta bukan cek kosong yang bisa kau isi seenaknya. Ada harga yang harus dibayar. Ada kesulitan. Ada pengorbanan. Ada banyak konsekuensi.

Kalau kau pernah berpikir jalan cinta selalu seperti sebuah highway yang luas, halus, dan bebas hambatan, kusarankan kau berhenti sejenak sebelum meneruskan perjalananmu. Tolong resapi sepenuh hati dan rasa, bahwa harapan yang terlalu muluk tentang cinta hanya akan menjadi duri dalam hubunganmu dengan obyek yang kau cintai, ayah ibumu dan juga bagi masa depanmu..

Suka atau tidak, inilah fakta tentang cinta. Maka pilihan paling bijak yang bisa kau ambil adalah memutuskan untuk berani diuji dan konsisten di jalan cinta. Caranya adalah punya kesadaran yang penuh untuk memaknai pengorbanan dalam cinta. Dan percaya hal itu adalah bagian dari cinta.

Ada banyak orang yang menyerah, kalah, dan terbunuh. Hanya karena kerikil kecil di lorong sempit cinta. Hanya karena beberapa duri di tangkai cinta. Hanya karena buih kecil di lautan cinta. Dan ingat, bukan hal yang sepele itulah yang membunuhnya. Tetapi pembunuhnya adalah mental dirinya yang lemah dan harapannya yang keliru tentang cinta.

Jika kau mencintai dan dicintai siapapun dalam iman, kau dan dirinya takkan pernah menyakiti, tak menjauhkanmu dari keluargamu, tak membiarkan dalam kesulitan, akan mencegah dari berbuat kehancuran, akan melarang berbuat zalim, dan saling mengingatkan dalam kebajikan.

Sebab cinta akan menemukan kesulitan dan ujian, lorong sempit dan tanjakan, kekurangan materi, himpitan persoalan, dan seterusnya. Pada saat-saat itulah cintamu diuji.

Pesan untuk kita,

Jika suatu keinginan belum berjumpa kesulitan maka jangan pernah tergesa-gesa menyebutnya cinta.

Karena cinta adalah anugerah Tuhan.. Mereka yang menerima dan mengalaminya tidak pernah menyadari bahwa dia telah jatuh cinta kepada seseorang. Cinta memerlukan keikhlasan dan kejujuran dan bukannya pengorbanan yang membuta tuli.

Dan mereka yang sanggup berkorban membuta tuli demi cinta adalah orang yang tidak pernah memahami arti cinta sebenarnya.

Percayalah, kita tak kan pernah bisa merasakan cinta sebelum mengecap kesedihan dan perpisahan, kesabaran yang pahit dan kesulitan yang membuat putus asa.

Karena cinta adalah naluri yang diolah pemahaman hati, kemana akan kita arahkan maka kesanalah cinta akan berjalan tanpa ada satupun yang sanggup menghalangi kecuali Kuasa-Nya. Sebagai manusia ternyata kita tak bisa melihat besar atau kecilnya produk cinta. Karena cinta terbit dari hati, maka hatilah yang paling jujur merasakannya.

Ada orang yang harus merogoh banyak uangnya untuk membeli cinta, tetapi yang ia dapatkan adalah kepalsuan. Ini artinya antara cinta dan topeng cinta ternyata tak berbeda jauh bukan?

Sebaliknya, kita mungkin pernah merasakan seseorang yang mencintai dengan hebat, padahal dia mengekspresikannya dengan sangat sederhana. Kesederhanaan dalam sikap, bahwa setiap yang kita cintai tentunya memiliki kekurangan.

Cinta dan keputusan untuk dekat dengan seseorang adalah kebijaksanaan, jika bisa saling mendukung, menguatkan, dan membangun. Walaupun untuk itu kita harus berikhlas diri untuk saling memahami satu sama lain.

Jika mencintai, resiko apapun akan kita lalui agar kita dan dia berada pada jalur kebaikan. Namun bukan berarti secara kalap mengiyakan apa saja yang dia katakan dan lakukan.

Karena pada saat kita merasa tidak mampu memperbaiki, bahkan bisa-bisa keburukannya yang menular kepada kita, maka tidak ada jalan lain, meninggalkannya adalah bagian dari kebaikan.

Apakah itu berarti kita menyerah? Ayolah, buka hatimu... seberapa tinggi kita mampu membayar rasa cinta itu?

Jangan membayar dengan masa depan, sahabat. Terlebih hubunganmu dengan keluargamu. Kita punya pilihan untuk meninggalkannya, sebelum kita terpaksa membayar terlalu tinggi untuk hal itu.

Jika kita tidak yakin bisa mengubahnya, kita punya pilihan untuk pergi dan mencari cinta yang lebih baik dan bisa saling mendukung, menguatkan, serta membangun. Inilah makna cinta yang sesungguhnya. Atau, kita mau membayar lebih tinggi, hanya untuk sebuah kenaifan memahami arti cinta???

Dan tentang hati dan kehidupannya tanpamu nanti, kau tak bertanggungjawab atas itu. Sama sekali tidak.

Karena di dunia yang kita jejak, berharap semua orang senang dengan piihan kita adalah harapan yang sia-sia... Tapi mengupayakan kebahagiaanmu dan orangtuamu adalah kewajiban pada Tuhan kita.

Tenang dan bersemangatlah.

Salam hangat musim kemarau..