Saturday, April 20, 2013

Secangkir kopi di selasar yang sama

Entah bagaimana aku mesti menuliskannya, kukira tak kan pernah bisa runtut terkisahkan olehku. Tentang bagaimana detik dan menit itu datang dan pergi, dan betapa aku menantikan masing-masing dari mereka.

Menit yang berwarna-warni, terkadang segar menggoda, terkadang dingin menggigit. Menantikanmu di menit-menit seperti itu, dengan satu dua cerita di kepalaku.

Kita akan bertemu di selasar yang itu-itu juga.

Tersenyum lelah, bercerita membagi hari. Melepas simpul obrolan, tepat di mana kita terkadang bersama meninggalkannya.

Menit-menit dalam musim yang berwarna-warni, bagiku adalah dirimu. Sekian menit itu, akan terasa seperti selamanya. Atau aku yang menginginkannya sebagai selamanya?

Secangkir kopi selesai, satu dua lelucon terceritakan, tertawa kita bersama. Lalu kita ikat satu lagi simpul buat hari ini. Berpisah di selasar yang itu-itu juga. Berjanji buat bertemu esok hari, buat secangkir kopi bersama.

Dan seringkali aku datang menyambut hari, hanya untuk menanti bergulirnya hari bersamamu.

Monday, August 13, 2012

Perjalanan

Saya ini hanyalah si tukang cerita, yang kerjanya duduk di pinggir keramaian dan mengamati. Si silent di tengah keramaian. Saya sama sekali bukan pemain dalam makna kontemporer – pun tidak berperan dalam pembentukan peristiwa atau karakter banyak orang. Hanya merekam apa yang saya lihat, dengan segala keterbatasan memori saya.

Dulu saya berpikir, saya-lah pihak yang aktif, bergerak, berpikir dan tak henti mencatat. Mengumpulkan cerita demi cerita yang kemudian akan saya tuliskan, disusun dan diurutkan untuk kemudian diceritakan kembali. Tapi ternyata saya salah. Kisah-kisah yang berkeliaran di dunia ini ternyata punya eksistensi sendiri. Tadinya mungkin mereka hanya potongan kisah hidup, anekdot-anekdot kecil yang muncul mewarnai perjalanan saya; tapi ternyata mereka menjadi nyata, hingga saya tidak bisa lagi mengontrol atau menentukan apa yang terjadi pada mereka.

Orang-orang dan pengalaman-pengalaman tertentu menjadi begitu kuatnya dan tidak terlupakan, sarat dengan cinta atau kepahitan yang tertanam begitu dalam di pikiran saya, dan tinggal di sana serta berkembang hingga mereka (atau saya) siap. Begitu banyak karakter dan tempat yang penuh cerita, hingga kadang-kadang saya bingung memutuskan siapa dan apa yang harus saya tulis. Merisaukan memang, karena terkadang mereka seperti mengerubung berebut perhatian.

Stasiun dan bandara adalah salah satu tempat favorit saya untuk memperhatikan orang. Saat berdiri di tengah hiruk pikuk keramaian adalah kesempatan untuk melihat dan mendengarkan. Seolah-olah saya diberi kesempatan untuk mengintip kehidupan orang lain: begitu membuat penasaran, dan juga tidak pernah utuh, karena saya tahu - begitu orang-orang itu bergerak berlalu, saya tidak akan pernah bisa menyatukan kepingan-kepingan kisah mereka.

Jadi-lah, saya duduk di pinggir keramaian, mengamati, dan kadang-kadang terpaksa mengalihkan pandangan agar tidak terlalu lama bertubrukan dengan kepahitan hidup yang begitu menyiksa.

Mempunyai imajinasi tinggi memang ada untung ruginya: kadang kita jadi bisa melihat dan merasakan sesuatu secara dekat. Dan bila ini terjadi, kita dihadapkan pada kenyataan yang seringkali tak ingin diketahui – apalagi dipahami – orang-orang di sekitarnya.

Melihat dengan mata.

Dengan hati.

Friday, July 27, 2012

Seribu doa kita, sahabat

Allah, kenapa kami harus berdoa pada-Mu? 

Itu pertanyaan berulang yang dulu sekali pernah kupertanyakan, sahabat.. Pertanyaan yang dengan semakin bertambahnya usia dan penuhnya seisi kepala ini pada akhirnya terjawab dengan sendirinya. 

Entahlah,


Kita tidak akan bisa menyelesaikan semua masalah. Dan berdoa kurasa adalah cara kita meminta bantuan Allah untuk bersama-sama menyelesaikan masalah yang kita hadapi.

Barangkali itu jawabannya. 

Kurasa tidak selalu Allah akan membantu kita seperti yang kita inginkan. Tapi setidaknya, aku sangat meyakini saat Allah sedang tidak membantu kita, sebenarnya Dia sedang memerintahkan para malaikat rahmat untuk membuat masalah yang kita hadapi menjadi mudah.

Jadi sebenarnya kurasa Allah selalu membantu kita. Dia menyayangi kita. Berdoa mungkin cara bagi kita memberi jawaban bahwa kita juga menyayangiNya, dengan selalu mengingatnya.

Robbiy habliy minash-shâlihîn

Dan apakah semua doa dikabulkan Allah? 

Mungkin tidak semua. Sejujurnya, aku sendiri tidak yakin dengan jawabanku. Bukankah dalam al-Quran dikatakan Allah menjawab semua doa hambaNya?

Kurasa tidak di-ijabah-nya doa kita itu berarti sebaliknya, doa kita di-ijabah.

Kalau kita mencatat semua doa yang pernah kita panjatkan. Mungkin Allah tidak menjawab semuanya. Tapi kita akan tahu: cara Allah tidak mengabulkan sebagian doa kita adalah untuk mengabulkan doa-doa kita yang lainnya. Allah Maha Tahu mana yang paling baik bagi kita, sementara kita hanya bisa mengira-ngira.

Atau mungkin juga ditunda. 

Mungkin saja. 

Doa adalah cahaya bagi ketidakmengertian kita. Kata orangtuaku, di tengah dunia yang gelap, malaikat pembawa rahmat hanya dapat melihat mereka yang menyalakan cahaya. Mereka yang berdoa adalah mereka yang sedang menyalakan cahaya dirinya dan memberi tahu para malaikat bahwa mereka masih mengingat Allah di dunia membutuhkan pertolonganNya meski  tidak selalu mengerti. 

Mungkin,

mungkin saja sahabatku,

doa juga merupakan cara kita untuk belajar mengerti.

Saturday, June 30, 2012

Hawa

Tapi kita sama-sama tahu, "jangan" adalah mantra pemikat dan Tuhan telah menggulirkan dadu. Memang ada tanda tanya yang berjatuhan seperti hujan di sisi kanan, tapi tak ada yang peduli.

(Hawa, Avianti Armand)

Tuesday, June 19, 2012

Yaa Mujibassailin

Kamu masih ingat lelaki tua yang selalu tersenyum mengatur lalu lintas di perempatan jalan yang kerap kita lewati itu?

Dia masih setia tersenyum,
saat kita sibuk mencari ruang untuk membaringkan luka..

Saturday, June 9, 2012

Ikhlas


Ada yang Kau tunda: Kebahagiaan
Ada yang Kau nyalakan: Harapan
Ada yang Kau tunggu: Kesabaran

: Tuhan, aku tetap bersamaMu ... dan baik-baik saja

Thursday, June 7, 2012

Tanpa Judul


Entahlah,

ini barangkali semacam percakapan yang terhubung di telepon genggam. Ada panggilan masuk. Ada panggilan keluar. Ada panggilan tak terjawab. Tetapi mungkin yang terpenting bukan seberapa banyak kita menelepon, ditelepon atau mendapatkan missed call. Perlu niat untuk melakukan sebuah percakapan—di samping perlu pulsa juga waktu yang cukup.

Karena percakapan telepon genggam bukan tentang ada atau tidak ada seseorang yang ingin kita hubungi atau menghubungi kita, tetapi tentang kesungguhan untuk saling terhubung dan memulai percakapan itu sendiri. Memilih tempat paling nyaman dan strategis agar sambungannya tak putus-putus. Mengenali dan identifikasi lokasi lawan bicara agar tak kecewa menghubunginya ‘di luar jangkauan’ atau saat ‘nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif’.

Lalu memahami, ketika kedekatan menjadi kebahagiaan sunyi yang terus membuat berani bermimpi.

Selanjutnya, hanya tombol-tombol yang tersedia di depan mata, juga sebuah nama, sisanya pilihan: ‘ya’ atau ‘tidak’?

Tuhan, semoga Engkau mendekatkan semua rahasia perasaan pada jawabannya. Engkaulah yang mengatur segalanya. Di atas semua keinginan dan kehendakku, aku mempercayakan semuanya pada pilihan-Mu: Dan semoga semua perasaan baik-baik saja.


Karena di atas semua cerita, ini semua bukan cuma soal perasaan…

Monday, June 4, 2012

Harapan


Hidup ini tentang tanggung jawab kita kepada Tuhan dan orang-orang yang kita cintai, Fellas.

Siapapun orang yang kamu cintai,

dia tidak akan pernah membunuh harapan yang kau miliki, tentangnya atau tentang kehidupan kalian.

Monday, May 7, 2012

Untuk sahabat yang duduk di sudut sana sendiri



Kadang kita merasa sangat mengenal seseorang, namun sesungguhnya tidak. Kita hanya merasa mengenal...lalu kenyataan menghempaskan kita pada hari-hari jeri, perih yang harus kita pulihkan sendiri.

Namun aku yakin, tak seorang pun ingin dilupakan, apalagi secara tiba-tiba...

Mari mematri kebahagiaan kembali, sahabat tercinta. Semangat pagi! :)