Multatuli

Multatuli (aku yang menderita) adalah nama pena dari Eduard Douwess Dekker, pengarang novel hebat favorit saya : Max Havelaar. Lahir tahun 1820 di Amsterdam dalam suatu lingkungan sederhana tidak membuat dia menjadi orang yang terpinggirkan. Dia, yang bertugas di Hindia Belanda pada pertengahan abad ke-19 menjadi saksi mata pemerasan, penindasan terhadap bangsa Indonesia.

Saya suka sekali dengan buku satu ini, sungguh .. Satu hal yang paling saya ingat di buku ini kalimat sakti di pengantarnya, "Ya, aku bakal dibaca". Dan terbukti karya Multatuli dibaca oleh orang - orang seantero jagat raya bukan?!

Well, ironis karena jaman sekarang ini, mencari orang Indonesia yang mau menulis kisah hidupnya mungkin sangat sulit sekali. Kalo saya perhatikan selama ini, yang berani menuliskan kisah hidupnya (autobiografi) atau dituliskan oleh orang lain (biografi) paling baru terbatas pada orang - orang populer macam KD , SBY ataupun Inul Daratista.

Padahal, kalo kita liat di Jepang, siapapun orangnya - public figure atau rakyat biasa - selalu punya keinginan menuliskan kisah hidupnya. Tingginya budaya tulis mereka karena learning society (masyarakat senang belajar) dan well-informed (terbuka dengan segala informasi), yang sudah terbangun sama tingginya dengan budaya baca (literate society) dan tulis.

Apapun yang sepertinya remeh temeh ditulis: cara merawat tanaman, membuat kerajinan tangan bahkan cara mengasuh anakpun selalu mampu menggerakkan mereka untuk menulis. Ya mungkin ini ada kaitannya dengan budaya mereka, yang yang membuka diri dengan segala bentuk informasi yang ada, sehingga bisa jadi membuat mereka sangat yakin bahwa karya mereka akan dibaca. Artinya, menulis bukan hanya hak penulis profesional bukan? Penulis amatiran seperti saya pun juga boleh. Toh menulis adalah hak setiap individu untuk menyampaikan gagasan atau ide pikirannya.

Oktober, 2008
Aku ingin (juga) dibaca ..

Comments

Bunga Karang said…
Mau tau dong masih ada yg jual kah novel Max Havelaar-nya Multatuli??

Popular Posts