Palestinian

Mahmoud Darwish, penyair dari Palestina itu meninggal, 9 Agustus yang lalu, dalam nasibnya: terkurung, dan melakukan apa yang dilakukan para tahanan dan dikerjakan para penganggur – yakni mengolah harap?

Setidaknya dalam kematian, ada puisinya tersampaikan dan membuka mata dunia untuk melintasi apa yang sesungguhnya terjadi di Palestina. Menyampaikan perasaan perih kehilangan semuanya, seorang yatim piatu sejarah, manusia tanpa proteksi dalam arti yang sehabis-habisnya.

Mungkin kutukan Palestina adalah posisinya yang begitu sentral bagi imajinasi Barat, baik secara historis maupun religius. Negeri itu dirupa dan dibingkai untuk menyamai kejadian – kejadian suram yang telah dan masih berlangsung di sana. Sebagaimana William Tackeray mendeskripsikannya :

Gunung – gunung gersang, dengan pohon zaitun kelabu gelap menggeligis di sana – sini; jurang – jurang ganas dan lembah – lembah dengan saf – saf batu nisan. Ke manapun kau berkelana di sekitar kota kau akan menemui sebuah pemandangan yang terlantar dan seram tak terkatakan. Tempat ini sepertinya sudah lumayan terbiasa dengan berbagai kejadian yang terekam dalam sejarah Yahudi. Nampaknya bagiku, tempat ini dan segala kejadian itu, tak bisa dilihat tanpa rasa tercekam. Ketakutan dan darah, kejahatan dan hukuman, bersambungan dari halaman ke halaman secara mengerikan. Di sini tak ada sejengkal pun tempat dimana belum pernah terjadi kekerasaan: sebuah pembantaian terjadi di sini, seseorang dibunuh di sana, disini berhala dipuja dengan ritual yang menyeramkan dan berdarah – darah.
- Notes a Journey from Cornhill to Grand Cairo -

Selamat jalan Mahmoud Darwish. Segenap dukaku untuk negaramu. Atas identitas diri yang membuat rakyatnya terpisahkan dari dunia. Atas kekuasaan dan kekerasan yang terjadi, dengan mengatasnamakan keselamatan diri segelintir pendatang – meski untuk itu harus mencelakakan orang lain ..

Comments

Anonymous said…
Kita juga mungkin pernah memiliki Mahmoud Darwish yang senantiasa menyuarakan kalimat-kalimat pembebasan lewat karyanya yang apik dan membebaskan. Tapi, Mahmoud dihormati, dipuja dan menjadi pahlawan bagi rakyat Palestina.....Tapi, kita (rezim) justru membuangnya, Pramoedya Ananta Toer...

Salam..
♥ Fa ♥ said…
Iya, rezim yang tak mampu membuka hati untuk menerima koreksi Pram atas segala peristiwa yang terjadi. Ketakutan untuk melihat kenyataan yang ada di pelupuk mata

Popular Posts