Rabbana


Rabb yang Maha dekat, ini doaku setelah mendengar kisah dari beberapa sahabat, saudaraku dalam iman, akan kerinduannya memiliki ketenangan seutuhnya dalam keluarganya.

Rabb yang Maha Mendengarkan, dengarkan keinginan saudara yang dicintai ini. Kirim barakah dan keindahanMu di rumahnya.

Rabb yang Maha Baik, titipkan kebahagiaan untuk keluarga yang dihormati ini. Seorang ibu yang shalihah, ayah yang bijaksana dan anak-anak yang shalih dan shalihah.

Rabb yang Maha Mengetahui, kesyukurannya nanti atas karunia yang Kau berikan akan berakibat baik baginya dan keluarganya. Adapun kesabarannya dalam membangun dan menjaganya kelak juga berdampak baik baginya dan keluarganya.

Rabb yang Maha Menentukan, ini adalah doa kami, sedangkan keputusan terbaik ada pada qadha-Mu, dan kami percaya. Kau tahu kapan saat memberi, kapan saat menunda, dan kapan pula saat menahan.

Rabb yang tak menyia-nyiakan amalan baik, maka doa kami malam ini adalah bagian dari usaha yang Kau anjurkan, bukan bagian dari penolakan kami kepada takdir-Mu.

Rabb yang Maha Bijaksana, sebagaimana kami telah ridha Engkau Tuhan kami, kami juga ridha atas apa yang Kau putuskan.

Rabb, sekali lagi, dari kami adalah doa, sedangkan atas-Mu pengabulan. Dari kami adalah kesungguhan, sedangkan atas-Mu keberpasrahan.

Amiin ya Rabb


Sahabat, kita bertemu dengan hati, maka kita hanya boleh dipisahkan jika salah seorang dari kita sudah tak memiliki hati. Maka bacalah ini dengan hati. Simpanlah dulu otak kirimu yang cenderung menghakimi.

Tulisan ini benar-benar digoreskan dengan detak hati yang tulus. Pesannya pun sangat sederhana, aku hanya ingin menegaskan kembali kebahagiaanku karena telah menjadi sahabatmu. Itu saja.

Hatiku bukan terbuat dari bahan-bahan terbaik yang terpelihara dari cacat dan kekuarangan, tapi hatiku telah kubuka seluas-luasnya untukmu, untuk keluh kesahmu, untuk ceritamu, untuk semua kesedihan dan kepahitan setiap peristiwa yang telah membuatmu terluka.

Aku ingin kau nyaman, dan dengan segala kesederhanaan itu, aku berkata kepadamu dengan yakin, "This is your home, Brother. This is your home, Sister."

Kubuka hatiku untukmu sahabat, untuk menceritakan kalau sekarang benakku menangkap ternyata kalimat singkat yang menunjukkan penghormatan atau kekuatiran dapat membekas di hati paling dalam. Terlebih lagi jika itu terucap dengan penyertaan sebuah senyuman yang tulus.

Dan sekaranglah aku mulai bisa memahami makna cinta, sahabat. Bahwa sebagai manusia ternyata kita tak bisa melihat besar atau kecilnya produk cinta. Karena cinta terbit dari hati, maka hatilah yang paling jujur merasakannya.

Ada orang yang harus merogoh banyak uangnya untuk membeli cinta, tetapi yang ia dapatkan adalah kepalsuan. Ini artinya antara cinta dan topeng cinta ternyata tak berbeda jauh.

Sebaliknya, kita mungkin pernah merasakan seseorang yang mencintai dengan hebat, padahal dia mengekspresikannya dengan sangat sederhana. Kesederhanaan dalam sikap, bahwa setiap yang kita cintai tentunya memiliki kekurangan.

Namun bukankah itu yang menyadarkan bahwa kita memang bukan mencintai seorang malaikat? Dan bukankah seperih apapun atas kekurangan yang kita cintai, kesemuanya ada atas seijinNya? Dan bukankah itu semua pun hadir karena cintaNya ingin memuliakan kita?

Maaf sahabat, usah tersinggung atas ucapku..

Sungguh bukan aku bermaksud mengguruimu karena kuyakin kau jauh lebih berilmu atas semua yang kukatakan ini.

Koreksikan saja satu hal ini sahabat, karena saat ini aku telah menentukan sikap atas satu hal penting bagi hidupku,

Bila tiba waktunya nanti,

pada hari aku memutuskan untuk memilih seseorang menjadi pendampingku, pada hari itu aku menghapus piagam masa laluku.

Karena di dalam keluarga kami, suami adalah dunia bagi istrinya. Maka aku tidak setengah-setengah memilih lalu memasuki duniaku. Sikap ini kutentukan sekarang meski aku benar-benar belum memutuskan siapa yang akan menjadi duniaku itu.


Allahumma inna nas'aluka hubbak, wa hubba man yuhibbuk, wa hubba 'amalin yuqarribuna ila hubbik.

cinta terukir dengan usaha untuk menjadikannya kuat dengan ketakwaan dan rasa syukur

dan cinta juga tidak bısa dihadırkan hanya dengan harap, namun kesediaan hati untuk menerimanya sesuai dengan fitrah

Aku teringat secarik pesan dari Nabi Idris untuk kita, sahabat..

"Cinta dunia dan cinta akhirat, keduanya tidak akan pernah berkumpul dengan seimbang dalam hati seorang manusia, selamanya"

Luv,
Fa
。◕‿ ◕。

Comments

linthen said…
Love it :) menusuk di kalbu hehe

Popular Posts