Tentang Cinta: Seberapa Tinggi Kita Mampu Membayar?

Sahabat, kita bertemu dengan hati, maka kita hanya boleh dipisahkan jika salah seorang dari kita sudah tak memiliki hati. Maka bacalah ini dengan hati. Simpanlah dulu otak kirimu yang cenderung menghakimi.

Tulisan ini digoreskan dengan detak hati yang tulus. Setidaknya itulah yang aku upayakan lakukan untukmu. Hatiku bukan terbuat dari bahan-bahan terbaik yang terpelihara dari cacat dan kekurangan, tapi telah kubuka, untuk keluh kesahmu, untuk ceritamu, untuk semua kesedihan dan kepahitan setiap peristiwa yang telah membuatmu terluka.

Karena sengaja ataupun tidak, kau telah melakukan kebaikan yang sama padaku.

Dan dengan segala kesederhanaan itu, aku berkata kepadamu dengan yakin, karena kau pun yang telah menunjukkan bahwa penghormatan atau kekuatiran akan membekas di hati paling dalam. Terlebih lagi karena itu terucap dengan penyertaan sebuah senyuman yang tulus.

Sahabat yang baik, ini hanya tentang harga-harga yang harus kita bayar dalam hidup.

Jika kita memiliki banyak bekal, punya cukup waktu luang, dan percaya masih memiliki tenaga dan kesempatan yang cukup untuk bangkit kembali; sebenarnya tidak mengapa kita bermain-main dengan pengalaman yang mengorbankan kebahagiaan jangka panjang.

Tapi siapa yang berani menjamin itu?

Jika tidak ada jaminan, maka jangan buang-buang waktu. Kita tidak perlu membayar dengan harga yang sangat mahal untuk berbahagia.

Termasuk juga dalam memilih kekasih hidup, kadang dengan alasan bersimpati atau cinta, kita sanggup "berkorban", mengorbankan masa depan, hingga tahap "rela menjadi korban".

Namun tahukah kau,

Kalau cinta akan datang untuk jiwa-jiwa yang kuat, yang tahan banting, yang siap diuji kemurniannya. Jika kau mencintai, kau akan dicoba. Sebab cinta bukan cek kosong yang bisa kau isi seenaknya. Ada harga yang harus dibayar. Ada kesulitan. Ada pengorbanan. Ada banyak konsekuensi.

Kalau kau pernah berpikir jalan cinta selalu seperti sebuah highway yang luas, halus, dan bebas hambatan, kusarankan kau berhenti sejenak sebelum meneruskan perjalananmu. Tolong resapi sepenuh hati dan rasa, bahwa harapan yang terlalu muluk tentang cinta hanya akan menjadi duri dalam hubunganmu dengan obyek yang kau cintai, ayah ibumu dan juga bagi masa depanmu..

Suka atau tidak, inilah fakta tentang cinta. Maka pilihan paling bijak yang bisa kau ambil adalah memutuskan untuk berani diuji dan konsisten di jalan cinta. Caranya adalah punya kesadaran yang penuh untuk memaknai pengorbanan dalam cinta. Dan percaya hal itu adalah bagian dari cinta.

Ada banyak orang yang menyerah, kalah, dan terbunuh. Hanya karena kerikil kecil di lorong sempit cinta. Hanya karena beberapa duri di tangkai cinta. Hanya karena buih kecil di lautan cinta. Dan ingat, bukan hal yang sepele itulah yang membunuhnya. Tetapi pembunuhnya adalah mental dirinya yang lemah dan harapannya yang keliru tentang cinta.

Jika kau mencintai dan dicintai siapapun dalam iman, kau dan dirinya takkan pernah menyakiti, tak menjauhkanmu dari keluargamu, tak membiarkan dalam kesulitan, akan mencegah dari berbuat kehancuran, akan melarang berbuat zalim, dan saling mengingatkan dalam kebajikan.

Sebab cinta akan menemukan kesulitan dan ujian, lorong sempit dan tanjakan, kekurangan materi, himpitan persoalan, dan seterusnya. Pada saat-saat itulah cintamu diuji.

Pesan untuk kita,

Jika suatu keinginan belum berjumpa kesulitan maka jangan pernah tergesa-gesa menyebutnya cinta.

Karena cinta adalah anugerah Tuhan.. Mereka yang menerima dan mengalaminya tidak pernah menyadari bahwa dia telah jatuh cinta kepada seseorang. Cinta memerlukan keikhlasan dan kejujuran dan bukannya pengorbanan yang membuta tuli.

Dan mereka yang sanggup berkorban membuta tuli demi cinta adalah orang yang tidak pernah memahami arti cinta sebenarnya.

Percayalah, kita tak kan pernah bisa merasakan cinta sebelum mengecap kesedihan dan perpisahan, kesabaran yang pahit dan kesulitan yang membuat putus asa.

Karena cinta adalah naluri yang diolah pemahaman hati, kemana akan kita arahkan maka kesanalah cinta akan berjalan tanpa ada satupun yang sanggup menghalangi kecuali Kuasa-Nya. Sebagai manusia ternyata kita tak bisa melihat besar atau kecilnya produk cinta. Karena cinta terbit dari hati, maka hatilah yang paling jujur merasakannya.

Ada orang yang harus merogoh banyak uangnya untuk membeli cinta, tetapi yang ia dapatkan adalah kepalsuan. Ini artinya antara cinta dan topeng cinta ternyata tak berbeda jauh bukan?

Sebaliknya, kita mungkin pernah merasakan seseorang yang mencintai dengan hebat, padahal dia mengekspresikannya dengan sangat sederhana. Kesederhanaan dalam sikap, bahwa setiap yang kita cintai tentunya memiliki kekurangan.

Cinta dan keputusan untuk dekat dengan seseorang adalah kebijaksanaan, jika bisa saling mendukung, menguatkan, dan membangun. Walaupun untuk itu kita harus berikhlas diri untuk saling memahami satu sama lain.

Jika mencintai, resiko apapun akan kita lalui agar kita dan dia berada pada jalur kebaikan. Namun bukan berarti secara kalap mengiyakan apa saja yang dia katakan dan lakukan.

Karena pada saat kita merasa tidak mampu memperbaiki, bahkan bisa-bisa keburukannya yang menular kepada kita, maka tidak ada jalan lain, meninggalkannya adalah bagian dari kebaikan.

Apakah itu berarti kita menyerah? Ayolah, buka hatimu... seberapa tinggi kita mampu membayar rasa cinta itu?

Jangan membayar dengan masa depan, sahabat. Terlebih hubunganmu dengan keluargamu. Kita punya pilihan untuk meninggalkannya, sebelum kita terpaksa membayar terlalu tinggi untuk hal itu.

Jika kita tidak yakin bisa mengubahnya, kita punya pilihan untuk pergi dan mencari cinta yang lebih baik dan bisa saling mendukung, menguatkan, serta membangun. Inilah makna cinta yang sesungguhnya. Atau, kita mau membayar lebih tinggi, hanya untuk sebuah kenaifan memahami arti cinta???

Dan tentang hati dan kehidupannya tanpamu nanti, kau tak bertanggungjawab atas itu. Sama sekali tidak.

Karena di dunia yang kita jejak, berharap semua orang senang dengan piihan kita adalah harapan yang sia-sia... Tapi mengupayakan kebahagiaanmu dan orangtuamu adalah kewajiban pada Tuhan kita.

Tenang dan bersemangatlah.

Salam hangat musim kemarau..

Comments

Popular Posts